Laut Bercerita: Ketika Kehilangan Menjadi Ingatan yang Tak Tenggelam

SAMUDERANESIA.CO.ID – LAUT menyimpan kehidupan yang tidak seluruhnya terlihat dari permukaan. Di perairan Indonesia, ekosistem laut menopang kehidupan biota sekaligus menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat pesisir. Namun, laut juga memiliki tempat dalam ingatan manusia, melalui cerita tentang perjalanan, perpisahan, dan kehilangan.

Makna tentang kehilangan itu hadir dalam film Laut Bercerita, adaptasi novel karya Leila S. Chudori yang digarap sutradara Yosep Anggi Noen. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026, setelah pemutaran khusus dan konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, pada 20 Oktober 2026.

Film tersebut membawa penonton pada kisah Biru Laut dan orang-orang di sekitarnya. Ceritanya menelusuri perjuangan anak muda, kehilangan, serta keluarga yang terus mencari kepastian tentang orang-orang yang tidak kembali pada era 1990-an.

Reza Rahadian pemeran karakter Biru Laut dalam film Laut Bercerita menjelaskan tentang proses mendalami karakternya/Dok. Samudenesia.co.id

Dalam konferensi pers, Reza Rahadian, salah satu pemeran utama, mengungkapkan keterikatannya dengan karakter Biru Laut.

“Laut ada di dalam kita semua,” ujar Reza ketika menjawab pertanyaan tentang caranya berpisah dengan karakter tersebut.

Pernyataan itu membuka ruang untuk membaca laut sebagai lebih dari sekadar nama tokoh. Dalam film ini, Biru Laut membawa cerita tentang pengalaman manusia yang meninggalkan jejak panjang bagi keluarga dan masyarakat. Kehilangan seseorang tidak selalu mengakhiri pengaruh kehadirannya dalam kehidupan orang-orang yang ditinggalkan.

Keluarga yang Terus Menunggu

Salah satu persoalan utama dalam Laut Bercerita adalah penantian keluarga terhadap orang-orang yang hilang. Ketidakpastian membuat kehilangan tidak berhenti pada satu peristiwa. Bagi keluarga, pertanyaan tentang keberadaan orang yang mereka cintai dapat terus hidup dalam keseharian.

Leila S. Chudori menghadirkan perempuan sebagai bagian penting dari cerita tersebut. Asmara Jati, Kinan, Ratih Anjani, dan Ibu Wibisono memperlihatkan beragam pengalaman dalam menghadapi kehilangan dan mempertahankan harapan.

Asmara berjuang melalui pencarian kebenaran dan advokasi. Sementara itu, sosok ibu menghadapi kehilangan melalui penantian dan harapan akan kepulangan anaknya. Perbedaan cara mereka menghadapi keadaan memperlihatkan bahwa dampak kehilangan tidak hanya dialami oleh orang yang menghilang, tetapi juga oleh keluarga yang harus melanjutkan hidup tanpa kepastian.

Dalam konteks ini, keluarga memegang peran penting dalam menjaga ingatan. Mereka mempertahankan pertanyaan tentang orang-orang yang tidak kembali, sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa sebuah peristiwa sejarah memiliki konsekuensi yang melampaui masanya.

Film ini juga mengangkat semangat generasi muda melalui kelompok Winatra dan tokoh Biru Laut. Perjuangan mereka berkaitan dengan kebebasan berpendapat, keberanian menyuarakan pandangan, dan perlawanan terhadap ketidakadilan.

Sutradara Yosep Anggi Noen menyinggung respons penonton di Busan yang menghubungkan kisah dalam film dengan pengalaman sejarah gerakan mahasiswa di Gwangju, Korea Selatan. Pengalaman tersebut menunjukkan kemungkinan pertemuan antara cerita film dan ingatan sejarah dari konteks negara yang berbeda.

Meski memiliki latar masing-masing, pengalaman tentang pembatasan kebebasan, kekuasaan, dan perjuangan masyarakat dapat menghadirkan pertanyaan serupa. Bagaimana sebuah masyarakat menghadapi masa lalunya? Siapa yang menjaga ingatan ketika sebuah peristiwa telah berlalu? Dan bagaimana kisah mereka yang kehilangan ruang untuk bersuara dapat tetap hadir dalam percakapan publik?

Dari Novel ke Layar Lebar

Jajaran pemain dan tim produksi film Laut Bercerita berfoto bersama dalam konferensi pers di Jakarta, 20 Oktober 2026/istimewa

Perjalanan Laut Bercerita menuju film panjang juga menunjukkan proses panjang penerjemahan karya sastra ke dalam bahasa sinema. Produser Wisnu Darmawan menjelaskan bahwa perjalanan adaptasi tersebut bermula pada 2017 melalui film pendek, sebelum berkembang menjadi film panjang.

Proses produksi turut menghadirkan kembali suasana era 1990-an, termasuk penggunaan teknologi komunikasi seperti pager. Detail tersebut membantu membangun konteks zaman ketika komunikasi belum berlangsung secepat sekarang.

Perbedaan itu memiliki arti tersendiri dalam cerita tentang penantian. Saat ini, pesan instan dan panggilan video memungkinkan seseorang berkomunikasi dalam hitungan detik. Namun, kemudahan teknologi tidak selalu dapat menjawab pertanyaan tentang keberadaan seseorang yang hilang.

Dalam kisah seperti ini, persoalannya bukan semata-mata terputusnya komunikasi. Ketidakpastian tentang nasib seseorang dapat meninggalkan pertanyaan yang terus menyertai kehidupan keluarga. Waktu berjalan, tetapi jawaban yang dibutuhkan belum tentu datang.

Melalui kisah para tokohnya, Laut Bercerita mengajak penonton melihat sejarah bukan hanya sebagai rangkaian peristiwa masa lalu. Sejarah juga hidup dalam pengalaman keluarga, hubungan antarmanusia, dan upaya masyarakat mempertahankan ingatan tentang apa yang pernah terjadi.

Ingatan yang Tidak Berhenti pada Masa Lalu

Laut dan sejarah memiliki konteks yang berbeda, tetapi keduanya dapat menjadi ruang untuk memikirkan sesuatu yang tidak selalu tampak secara langsung. Di laut, kehidupan berlangsung di bawah permukaan. Dalam sejarah, pengalaman manusia dapat terus meninggalkan dampak meskipun peristiwanya telah berlalu.

Hubungan tersebut menjadi titik refleksi ketika membaca Laut Bercerita. Film ini menempatkan kehilangan bukan semata-mata sebagai pengalaman personal, melainkan sebagai persoalan yang menyentuh keluarga, generasi muda, dan ingatan masyarakat.

Bagi Samuderanesia.co.id, perspektif maritim tidak hanya berkaitan dengan kekayaan ekosistem dan sumber daya laut. Laut juga menjadi bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Indonesia. Namun, hubungan itu perlu dipahami melalui konteks yang nyata, bukan sekadar melalui kesamaan simbol atau metafora.

Pada akhirnya, kekuatan cerita tentang kehilangan terletak pada kemampuannya menjaga pertanyaan tetap hidup. Melalui film ini, pengalaman tokoh-tokohnya kembali hadir di hadapan penonton, membuka ruang untuk membicarakan sejarah, kebebasan, dan keluarga yang terus menanti kepastian.

Laut Bercerita dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Kehadirannya menjadi kesempatan bagi penonton untuk kembali menyimak kisah tentang perjuangan dan kehilangan, serta memahami bahwa masa lalu tidak selalu selesai ketika sebuah peristiwa berakhir.

Penulis : Cheryl Olga E

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *