Pasokan Ikan Yogyakarta Masih Terbatas, Pokdakan Ngupoyo Mino Siapkan 355 Kolam untuk Ekspansi

SAMUDERANESIA.CO.ID – Kebutuhan ikan konsumsi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang disebut mencapai 40–50 ton per hari menjadi peluang bagi Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Ngupoyo Mino di Kabupaten Sleman. Dengan dukungan 355 kolam budidaya, ketersediaan air yang melimpah, serta rencana penguatan permodalan, kelompok ini berupaya meningkatkan produksi lele dan patin untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal.

Ketua Pokdakan Ngupoyo Mino, Suharyanto, mengatakan kelompoknya saat ini mengandalkan lele dan patin sebagai komoditas unggulan. Selain kedua jenis ikan tersebut, kelompok yang berlokasi di Desa Sanggrahan, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, itu juga membudidayakan nila dan sejumlah ikan air tawar lainnya sesuai permintaan pasar.

“Ketersediaan air di wilayah kami sangat melimpah dan ini menjadi kekuatan utama dalam mengembangkan usaha budidaya. Saat ini serapan lele dan patin di tempat kami sangat tinggi,” ujar Suharyanto dalam keterangannya, Selasa (20/10/2026).

Menurut Suharyanto, kawasan budidaya yang semula hanya memiliki puluhan kolam kini berkembang menjadi 355 kolam. Namun, kapasitas produksi kelompok tersebut masih perlu ditingkatkan untuk menjangkau kebutuhan pasar yang lebih luas.

Ia menyebutkan, Pokdakan Ngupoyo Mino saat ini memasok sekitar 1–2 ton ikan setiap dua hari. Angka tersebut masih jauh di bawah kebutuhan konsumsi ikan harian di DIY yang diperkirakan mencapai 40–50 ton. Meski demikian, perbandingan tersebut perlu dilihat sebagai gambaran potensi pasar, bukan sebagai ukuran pasti kekurangan pasokan, mengingat angka kebutuhan dan cakupan distribusi perlu diverifikasi lebih lanjut.

Untuk meningkatkan produktivitas, kelompok mulai mengoptimalkan pemanfaatan kolam bundar dengan teknologi bioflok. Dari total 355 kolam yang tersedia, sekitar 50–60 kolam disebut telah beroperasi menggunakan sistem tersebut. Pengembangan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan infrastruktur dan pengelolaan budidaya.

Pembenahan fasilitas juga menjadi bagian dari rencana pengembangan. Perbaikan saluran irigasi, pemasangan pagar pengaman, serta penambahan peneduh dan pelindung kolam dari hama predator dilakukan untuk mendukung pemeliharaan ikan, mengurangi risiko kehilangan hasil, dan menjaga keberlangsungan produksi.

Suharyanto mengakui, perjalanan kelompoknya dalam mengembangkan usaha budidaya tidak selalu berjalan mulus. Dalam tiga tahun terakhir, mereka menghadapi berbagai kendala, mulai dari kematian ikan akibat perubahan cuaca hingga persoalan kedisiplinan dan ketelitian pekerja dalam menjalankan kegiatan operasional.

“Belajar dari pengalaman jatuh bangun dalam tiga tahun terakhir ini, kami menyadari betul bahwa ketelatenan, keuletan, dan kedisiplinan manajemen merupakan kunci utama untuk mencapai target produksi. Tanpa kedisiplinan, teknologi sebaik apa pun tidak akan memberikan hasil optimal,” katanya.

Pendampingan Manajemen dan Dukungan Modal

Selain membenahi infrastruktur, Pokdakan Ngupoyo Mino juga membutuhkan penguatan tata kelola usaha agar peningkatan kapasitas produksi dapat berjalan beriringan dengan efisiensi biaya.

Konsultan dan tenaga ahli perbaikan kolam bioflok serta manajerial, Yudha Hanggara, mengatakan pendampingan dilakukan untuk memperbaiki sistem operasional, mulai dari jaringan irigasi hingga pencatatan penggunaan pakan dan pengelolaan keuangan.

Menurut Yudha, pencatatan rasio konversi pakan atau feed conversion ratio (FCR) menjadi salah satu aspek penting dalam mengukur efisiensi budidaya. Data penggunaan pakan dan hasil panen dapat menjadi dasar evaluasi biaya produksi sekaligus membantu kelompok menyusun perencanaan usaha yang lebih terukur.

“Kami hadir melakukan pendampingan teknis, mulai dari perbaikan jaringan irigasi air, pencatatan rasio pakan yang terukur dan terintegrasi, hingga penyusunan standar manajemen keuangan yang tepat. Hal ini penting agar modal kerja serta perolehan keuntungan tercatat secara akuntabel,” jelas Yudha.

Dari sisi pembiayaan, Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan kesiapan mendukung kebutuhan modal kerja Pokdakan Ngupoyo Mino. Dukungan tersebut diarahkan untuk membantu kelompok meningkatkan kapasitas usaha dan mengoptimalkan potensi budidaya yang dimiliki.

Kepala Divisi Bisnis II LPMUKP KKP, Darmawan Sidik, mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung kelompok pembudidaya yang memiliki potensi pengembangan usaha, termasuk kelompok yang menghadapi kendala permodalan.

“LPMUKP akan mendukung penuh para pembudidaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Salah satunya adalah Pokdakan Ngupoyo Mino di Sleman ini. Dengan potensi air yang melimpah dan komitmen pengurus yang kuat, kami siap memfasilitasi kebutuhan modal kerja agar mereka dapat melakukan produksi secara maksimal,” ujar Darmawan.

Dengan pembenahan infrastruktur, pendampingan manajemen, dan dukungan pembiayaan yang direncanakan, Pokdakan Ngupoyo Mino menargetkan peningkatan produksi secara bertahap. Optimalisasi 355 kolam diharapkan dapat memperkuat kapasitas usaha kelompok sekaligus membuka peluang bagi pembudidaya lokal untuk mengambil bagian dalam pemenuhan kebutuhan ikan konsumsi di Yogyakarta. (zee)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *