SAMUDERANESIA.CO.ID -Krisis moneter 1998 sempat meluluhlantakkan usaha perikanan Murdiman. Namun, kecintaannya pada dunia budidaya membuatnya kembali bangkit hingga mampu mengembangkan 200 kolam lele di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kini, melalui Kelompok Pembudidaya Ikan Silobar Farm, ia mengembangkan usaha dari pembenihan hingga pengolahan ikan, sekaligus memasok kebutuhan lele untuk mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Murdiman (54), Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Silobar Farm, telah menekuni usaha budidaya perikanan sejak berusia 19 tahun. Perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus. Krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997–1998 menjadi salah satu masa terberat ketika usahanya hancur dan ia harus kembali merintis bisnis dari awal.
“Waktu krismon 1998 itu semua habis porak-poranda. Tapi karena sudah cinta dengan dunia budidaya, saya tidak patah semangat dan memilih untuk terus bertahan,” ujar Murdiman saat ditemui di kawasan kolam produksinya di Desa Margo Katon, Sleman.
Setelah melewati masa sulit, Murdiman kembali membangun usahanya secara bertahap. Berawal dari dua kolam, usahanya berkembang menjadi 20 kolam. Perkembangan tersebut semakin pesat setelah ia memperoleh pendampingan dari Penyuluh Permodalan Lembaga Pengelolaan Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Pada 2024, Murdiman memperoleh pembiayaan modal kerja sebesar Rp2,5 miliar dari LPMUKP KKP yang dicairkan secara bertahap. Pembiayaan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksi, memperluas usaha, dan memperkuat sarana budidaya.
Kini, pada periode 2024–2026, Silobar Farm mengelola sedikitnya 200 kolam tanah dan kolam bioflok untuk pembesaran lele. Teknologi bioflok juga dimanfaatkan sebagai sarana penampungan dan karantina ikan hasil panen sebelum didistribusikan kepada konsumen guna menjaga kualitas produk.
Selain pembesaran, kelompok tersebut menjalankan pembenihan secara mandiri untuk mendukung keberlanjutan produksi. Pengembangan usaha juga mencakup sektor pengolahan, mulai dari pembuatan fillet hingga pemisahan kepala lele untuk memenuhi kebutuhan pasar terhadap produk perikanan segar maupun olahan.
Adi Cahyono (25), putra Murdiman, mengatakan produk lele dari usaha keluarganya telah dipasok secara rutin kepada sekitar 50 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk mendukung pelaksanaan Program MBG.
“Awal-awal kami sudah menjadi langganan rutin untuk pasokan ke 50 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mendukung Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, kami juga mendistribusikan lele segar dan olahan langsung ke pasar-pasar tradisional hingga jaringan restoran,” kata Adi.
Perluasan pasar tersebut turut membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar. Saat ini, Silobar Farm didukung sekitar 20 tenaga kerja yang terlibat dalam kegiatan produksi dan pengolahan lele. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian dari upaya Murdiman membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitarnya.
Bagi Murdiman, pembiayaan dan pendampingan dari LPMUKP KKP menjadi salah satu faktor penting dalam memulihkan usaha yang sempat terpuruk akibat krisis moneter. Dukungan tersebut memberinya kesempatan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas jangkauan pemasaran.
“LPMUKP ini sangat bermanfaat bagi kami. Kehadirannya betul-betul menghidupkan kembali usaha yang dulu sempat hancur akibat krismon,” ungkapnya.
Keberlanjutan Silobar Farm juga didukung keterlibatan generasi muda. Adi memilih kembali ke desa untuk meneruskan usaha sang ayah sekaligus membantu meningkatkan efisiensi operasional. Berbekal pendidikan di bidang teknik permesinan, ia turut menerapkan pengetahuan teknis dalam pengelolaan fasilitas budidaya bioflok dan unit pengolahan lele.
Menurut Adi, usaha yang dibangun keluarganya juga menjadi ruang belajar bersama bagi para pekerja, meskipun sebagian besar tidak memiliki latar belakang pendidikan formal di bidang perikanan.
“Kami mempekerjakan orang-orang di sekitar kami. Tidak ada yang latar belakang pendidikannya teknis perikanan, tapi kami belajar bersama dan menikmati hasil usaha bersama,” katanya.
Ke depan, Adi berharap dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang magister di bidang teknologi akuakultur untuk memperdalam pengetahuan mengenai budidaya perikanan. Ia berharap peningkatan kapasitas sumber daya manusia dapat mendukung pengembangan usaha keluarga agar semakin efisien dan berkelanjutan.
Perjalanan Murdiman menunjukkan bahwa ketekunan pelaku usaha, dukungan permodalan, dan regenerasi dapat menjadi faktor penting dalam pengembangan sektor perikanan budidaya. Melalui penguatan usaha dari hulu hingga hilir, Silobar Farm tidak hanya memperluas pasar lele, tetapi juga membuka lapangan kerja dan menyediakan produk perikanan untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat melalui Program MBG. (zee)


