SAMUDERANESIA.CO.ID – Upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan tidak cukup hanya melalui peningkatan produksi. Penguatan sistem rantai dingin (cold chain) dari hulu hingga hilir dinilai menjadi salah satu kunci untuk menekan kehilangan hasil perikanan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk.
Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri mengatakan rendahnya pendapatan nelayan salah satunya berkaitan dengan masih tingginya kehilangan hasil akibat keterbatasan penanganan ikan setelah ditangkap. Karena itu, penguatan cold chain perlu ditempatkan sebagai bagian dari strategi pengelolaan perikanan, bukan sekadar penyediaan infrastruktur.
“Kalau storage-nya itu movable, bisa dipindah-pindahkan, portable, mudah. Kalau ternyata kita selalu memilih lokasi yang kurang tepat, maka bisa dipindahkan,” ujar Rokhmin, Kamis (10/9/2026).
Menurut Rokhmin, teknologi rantai dingin yang dikembangkan untuk Indonesia perlu mempertimbangkan efisiensi energi, harga, kemudahan pengoperasian hingga mobilitas. Hal tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan sentra produksi ikan yang tersebar di berbagai wilayah.
Kebutuhan tersebut kemudian menjadi ruang bagi pelaku industri untuk menghadirkan teknologi yang lebih fleksibel. TITAN Containers melalui Director of Business Partnerships TITAN International, Barbora Vorage, memperkenalkan ArcticStore Horizon sebagai solusi cold storage portabel yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan penyimpanan di berbagai lokasi.
Barbora mengatakan TITAN merupakan teknologi yang dikembangkan pada 2025 tersebut dirancang dengan efisiensi energi yang lebih tinggi. Perusahaan menyebut ArcticStore Horizon mampu mengurangi penggunaan energi rata-rata hingga 55 persen dan menggunakan refrigeran dengan global warming potential (GWP) sangat rendah. Teknologi tersebut juga dapat dikombinasikan dengan panel surya serta dilengkapi sistem pemantauan jarak jauh melalui SmartArctic.
Dari sisi teknis, perwakilan ASHRAE Indonesia Chapter Dr. Eng. Arnas Lubis menilai penguatan cold chain tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas penyimpanan. Sistem harus dirancang dengan memperhatikan karakteristik produk, beban pendinginan, kondisi iklim, jenis refrigeran, distribusi hingga aspek pemeliharaan.
“Kalau kita bicara rantai dingin menjaga sebuah mutu produk itu bukan sekadar fasilitas,” kata Arnas.
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menempatkan sistem rantai dingin sebagai bagian penting dalam pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Direktur Prasarana dan Sarana KKP Achmad Al Farisi mengatakan KNMP diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi yang terintegrasi, mulai dari penangkapan, penyediaan es, penyimpanan, pengolahan, distribusi hingga pemasaran.
“Jadi saya ulangi sekali lagi, hasil tangkapan harus dipastikan utuh, didistribusikan secara efisien, dan dipasarkan dengan nilai ekonomi yang tinggi,” kata Achmad.
Penguatan tersebut membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, organisasi profesi dan pelaku industri. Pemerintah melalui KKP berperan dalam membangun kebijakan dan ekosistem KNMP, sementara ASHRAE memberikan perspektif teknis dan industri seperti TITAN menghadirkan pilihan teknologi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan lapangan.
Dengan demikian, pengembangan cold chain tidak hanya diarahkan untuk menjaga kualitas ikan, tetapi juga mengurangi food loss, meningkatkan nilai jual hasil tangkapan dan memperkuat rantai ekonomi nelayan. Teknologi penyimpanan yang fleksibel seperti yang ditawarkan TITAN menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan dalam membangun sistem rantai dingin yang sesuai dengan karakteristik wilayah Indonesia.(zee)



