SAMUDERANESIA.CO.ID, CIREBON — Berawal dari usaha budi daya lele, Pokdakan Kersa Mulya Bakti di Desa Kertasura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kini berkembang menjadi kawasan bisnis perikanan terpadu seluas 30 hektare. Perkembangan ini didukung dana bergulir Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta penerapan manajemen usaha modern oleh generasi muda lulusan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB).
Kelompok yang beranggotakan 15 kepala keluarga (KK) tersebut berhasil mengembangkan usaha budi daya lele dari kegiatan produksi menjadi bisnis perikanan terpadu. Mereka kini mengelola berbagai fasilitas, mulai dari pembenihan (hatchery), pengolahan hasil panen, hingga pabrik pakan mandiri.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari peran Suganda, pembudi daya yang telah menekuni usaha lele secara otodidak selama lebih dari 35 tahun. Ia membangun usaha dengan mengedepankan kejujuran, ketulusan, dan kesederhanaan untuk menjaga kepercayaan anggota kelompok maupun mitra usaha.
“Visi dan misi kami sederhana, ingin hadir memberikan kebermanfaatan bagi sesama warga sekitar, khususnya di Desa Kertasura,” ujar Suganda.
Pengelolaan usaha kemudian diperkuat oleh putrinya, Fatimah, lulusan Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia memilih terjun langsung mendampingi usaha keluarga dengan menerapkan pendekatan manajemen modern.
Fatimah terlibat dalam operasional harian, mulai dari pengaturan pemberian pakan, pencatatan keuangan, penyusunan analisis bisnis, hingga memberikan masukan untuk pengelolaan kelompok. Pendekatan tersebut melengkapi pengalaman praktis yang selama puluhan tahun dibangun Suganda.
Dalam perkembangannya, kawasan budi daya Kersa Mulya Bakti tumbuh menjadi sentra bisnis perikanan terpadu seluas 30 hektare. Kawasan ini sebelumnya sempat mengalami keterpurukan saat pandemi Covid-19, sebelum kembali mengembangkan kapasitas produksinya.
Produksi lele yang semula sekitar 1 ton per hari kini meningkat menjadi 3 ton per hari. Dukungan dana bergulir dari LPMUKP KKP menjadi salah satu faktor yang membantu kelompok tersebut memperkuat kegiatan usaha dan meningkatkan kapasitas produksinya.
Fatimah mengaku, pada awalnya ia tidak membayangkan akan terlibat langsung dalam bisnis perikanan yang dijalankan ayahnya. Ia sempat memiliki keinginan melanjutkan pendidikan ke luar negeri, sementara orang tuanya memberikan kebebasan kepada dirinya dan adiknya untuk memilih profesi.
“Tidak pernah ada dalam cita-cita untuk ikut kecemplung ke bisnis papa, saya punya keinginan melanjutkan kuliah ke luar negeri. Karena orang tua pun memberikan kebebasan kepada saya dan adik untuk menekuni profesi apa,” ucap Fatimah.
Meski demikian, ia merasakan kepuasan tersendiri ketika dapat membantu mengembangkan usaha keluarga melalui penguatan manajemen dan operasional bisnis.
Sementara itu, Kepala Divisi Bisnis II sekaligus Ketua Tim Kerja Budi Daya LPMUKP, Darmawan Sidik, menilai Suganda sebagai sosok pembudi daya yang inspiratif. Pria yang akrab disapa Dadang itu menyebut Suganda memiliki pengalaman lapangan yang kuat serta komitmen untuk memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Menurut Dadang, Suganda dan Pokdakan Kersa Mulya Bakti dapat menjadi contoh bagi debitur LPMUKP lainnya, khususnya dalam mengelola modal kerja secara bertanggung jawab.
“Pak Suganda ini sosok yang sangat layak dijadikan panutan bagi debitur-debitur lain dalam mengelola dan mengembalikan modal kerja dari LPMUKP KKP,” ujar Dadang.
Perjalanan Pokdakan Kersa Mulya Bakti memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara pengalaman pembudi daya, penerapan manajemen modern, dan akses permodalan. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat usaha perikanan budi daya sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah. (zee)

