KNMP Ketapang Dorong Hilirisasi Ikan, Nilai Jual Fillet Tembus Rp14 Ribu per Kilogram

SAMUDERANESIA.CO.ID — Program Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung, mendorong pengembangan hilirisasi produk perikanan melalui pengolahan ikan belo (Anodontostoma selangkat) dan ikan selangat (Anodontostoma chacunda). Komoditas yang sebelumnya memiliki nilai jual relatif rendah kini diolah menjadi produk fillet dengan harga mencapai Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram.

Pengolahan tersebut menjadi salah satu upaya meningkatkan nilai tambah hasil tangkapan nelayan sekaligus memperluas peluang usaha masyarakat pesisir. Melalui fasilitas penanganan ikan dan cold storage yang tersedia di kawasan KNMP Ketapang, komoditas perikanan tidak hanya dipasarkan dalam bentuk bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Erwin Dwiyana, mengatakan ikan yang diterima dari nelayan saat ini dihargai sekitar Rp2.000 per kilogram oleh offtaker. Setelah melalui proses pengolahan menjadi fillet, produk tersebut dapat dijual dengan harga Rp13.000 hingga Rp14.000 per kilogram.

“Ikan dari nelayan saat ini dihargai Rp2.000/kg oleh offtaker, kemudian menjadi ikan fillet dengan harga jual Rp13.000–Rp14.000/kg. Artinya nilainya mengalami kenaikan signifikan,” ujar Erwin melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (2/10).

Menurut Erwin, aktivitas pengolahan ikan di KNMP Ketapang menunjukkan bahwa program tersebut tidak hanya mendukung kegiatan perikanan di sektor hulu, tetapi juga mendorong tumbuhnya usaha pengolahan di sektor hilir. Kegiatan ini turut membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar, termasuk kelompok perempuan pesisir.

Tercatat, sebanyak 11 perempuan yang merupakan istri nelayan diberdayakan sebagai tenaga kerja dalam kegiatan pengolahan ikan tersebut. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat ekonomi program KNMP agar dapat dirasakan oleh keluarga nelayan dan masyarakat setempat.

“Tentu ini kabar menggembirakan bahwa KNMP Ketapang bisa menjadi simpul hilirisasi yang menyerap sekaligus memberdayakan masyarakat pesisir,” kata Erwin.

Selain meningkatkan nilai jual produk utama, KNMP Ketapang juga mengembangkan pemanfaatan hasil samping pengolahan ikan. Direktur Pengolahan Ditjen PDSPKP, Budi Yuwono, mengapresiasi pemanfaatan limbah berupa isi perut, tulang, dan kepala ikan yang diolah menjadi bahan baku tepung ikan. Limbah tersebut memiliki nilai jual sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram.

Budi mengatakan, pemanfaatan bagian ikan yang sebelumnya berpotensi terbuang menjadi bahan baku produk lain merupakan bagian dari penerapan konsep zero waste dalam kegiatan pengolahan perikanan. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi limbah sekaligus menciptakan sumber pendapatan tambahan bagi pelaku usaha.

“Kami sangat mengapresiasi bahwa hilirisasi juga mengubah limbah menjadi emas. Jadi tidak ada satu bagian pun yang terbuang,” ujar Budi.

Ia berharap praktik hilirisasi yang dikembangkan di KNMP Ketapang dapat menjadi contoh bagi kampung nelayan lainnya, terutama wilayah yang memiliki komoditas perikanan serupa. Optimalisasi fasilitas pengolahan dan pemanfaatan hasil samping dinilai dapat memperkuat rantai usaha perikanan serta memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

“Kami percaya optimalisasi KNMP mampu mewujudkan kesejahteraan nelayan dan kejayaan maritim Indonesia,” tutupnya.

Pengembangan hilirisasi di KNMP Ketapang memperlihatkan peluang peningkatan nilai tambah hasil perikanan melalui pengolahan, penciptaan lapangan kerja, dan pemanfaatan limbah. Keberlanjutan upaya tersebut diharapkan dapat memperkuat usaha masyarakat pesisir sekaligus mendukung peningkatan daya saing produk perikanan nasional.(zee)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *