Bukan Sekadar Rumput Laut : Ribuan Hektare Lamun di Kepulauan Kei Kecil Berpotensi Simpan Karbon Biru

SAMUDERANESIA.CO.ID — Ekosistem lamun di Kepulauan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, memiliki potensi sebagai penyimpan karbon biru sekaligus penopang kehidupan masyarakat pesisir. Potensi tersebut terungkap melalui kegiatan pemetaan sebaran lamun dan pengukuran cadangan karbon yang dilakukan oleh tim peneliti di sejumlah lokasi.

Pemetaan dilakukan menggunakan citra satelit Sentinel dengan resolusi 10 meter dan metode Random Forest. Penggabungan hasil pemetaan pada 2025 dan 2026 mencatat luas lamun yang berhasil dipetakan mencapai 2.550,58 hektare. Sementara itu, estimasi luas keseluruhan ekosistem lamun di wilayah kajian mencapai 11.531,39 hektare.

Hasil pemetaan menunjukkan sebaran lamun di sejumlah lokasi memiliki luasan yang berbeda. Di Pulau Ubur, luas lamun yang terpetakan mencapai 281,81 hektare dengan tingkat akurasi 83 persen. Sementara itu, di Pulau Oat tercatat seluas 209,56 hektare dengan akurasi 75,16 persen.

Adapun di Desa Disuk, luas lamun yang berhasil dipetakan mencapai 486,86 hektare dengan tingkat akurasi sekitar 85 persen. Data tersebut menjadi gambaran awal mengenai distribusi ekosistem lamun yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pengelolaan wilayah pesisir.

Meski demikian, pemetaan berbasis citra satelit memiliki sejumlah keterbatasan. Perbedaan kedalaman perairan, tingkat kekeruhan, kejernihan air, tutupan awan, pantulan cahaya matahari, serta keberadaan objek lain di dasar laut dapat memengaruhi hasil klasifikasi lamun.

Karena itu, hasil pemetaan perlu dilengkapi dengan verifikasi lapangan atau ground check. Pengambilan data melalui transek dan kuadrat di sejumlah titik diperlukan untuk memastikan kesesuaian hasil interpretasi citra satelit dengan kondisi ekosistem lamun yang sebenarnya.

Selain pemetaan, tim juga melakukan pengukuran biomassa dan cadangan karbon pada bagian atas dan bawah permukaan lamun serta sedimen. Pengukuran tersebut dilakukan untuk memperoleh gambaran mengenai kemampuan ekosistem lamun dalam menyimpan karbon.

Dalam kegiatan tersebut, tim karbon yang dipimpin Agustin Rustam menemukan biomassa lamun bagian atas permukaan tertinggi di kawasan Celah Sup dan Bararan. Lokasi tersebut dinilai memiliki potensi sebagai area penyimpanan karbon, terutama karena keberadaan lamun jenis Enhalus acoroides yang berukuran besar dan relatif persisten.

Sementara itu, biomassa bagian bawah permukaan tertinggi ditemukan di Pulau Enam. Salah satu sampel pengukuran bahkan menunjukkan kandungan karbon lebih dari 5 ton karbon per hektare. Temuan ini menjadi salah satu indikasi potensi penyimpanan karbon pada bagian akar dan jaringan bawah permukaan lamun.

Namun, pengukuran cadangan karbon masih memerlukan pendalaman. Sejumlah sampel inti sedimen atau sediment core belum mencapai kedalaman yang memadai untuk menggambarkan keseluruhan lapisan penyimpanan karbon. Oleh sebab itu, pengambilan sampel lanjutan disarankan dilakukan hingga kedalaman lebih dari 30 sentimeter atau sampai mencapai batas lapisan sedimen yang relevan.

Tim juga merekomendasikan pemantauan berkala melalui plot permanen. Pengamatan dapat dilakukan setiap empat hingga enam bulan atau setidaknya satu kali dalam setahun untuk melihat perubahan kondisi lamun, biomassa, dan cadangan karbon dari waktu ke waktu.

Pengukuran karbon tersebut juga perlu diintegrasikan dengan data ekologi, seperti umur tegakan, panjang daun, perkembangan akar, serta kondisi tutupan lamun. Integrasi data ini diperlukan agar estimasi cadangan karbon dapat menggambarkan kondisi ekosistem secara lebih menyeluruh.

Hasil pemetaan dan pengukuran karbon diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan zonasi pengelolaan wilayah pesisir Kepulauan Kei Kecil. Data tersebut perlu dipadukan dengan hasil survei sosial ekonomi masyarakat agar rencana perlindungan ekosistem tetap memperhatikan aktivitas dan kebutuhan warga setempat.

Dengan menggabungkan data ekologi, pemetaan, cadangan karbon, dan sosial ekonomi, pengelolaan lamun di Kepulauan Kei Kecil diharapkan dapat dilakukan secara lebih terukur. Upaya tersebut sekaligus membuka peluang perlindungan ekosistem pesisir yang berkelanjutan, tanpa mengabaikan pemanfaatan ruang laut oleh masyarakat. (ahs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *