SAMUDERANESIA.CO.ID – Program Indonesia Coral Reef Garden (ICRG) yang dijalankan Kementerian dan Perikanan (KKP) di Provinsi Bali berhasil memulihkan sekitar 72 hektare terumbu karang sekaligus menyerap lebih dari 11.250 tenaga kerja. Program ini dinilai tidak hanya mempercepat pemulihan ekosistem laut, tetapi juga membuka peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir melalui pengembangan wisata bahari dan ekonomi berbasis sumber daya kelautan.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, mengatakan keberhasilan program konservasi harus diikuti dengan pengembangan ekonomi masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
“Restorasi terumbu karang, wisata bahari berbasis masyarakat, dan pengembangan produk kelautan bernilai tambah harus berjalan beriringan. Dengan demikian, konservasi tidak hanya menjaga kelestarian ekosistem laut, tetapi juga menciptakan peluang usaha, lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” ujar Koswara di Jakarta, Rabu (22/7/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan usai kunjungan kerja Komisi IV DPR RI ke kawasan Pantai Mengiat, Nusa Dua, Bali, pada Jumat (17/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Dirjen Pengelolaan Kelautan mendampingi rombongan Komisi IV DPR RI meninjau langsung pengelolaan ekosistem laut bersama Badan Karantina Indonesia, pelaku usaha, serta kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan kawasan konservasi.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Panggah Susanto, menegaskan bahwa pengelolaan kawasan pesisir memerlukan komitmen bersama, termasuk dukungan anggaran yang memadai agar manfaat ekonomi dari sumber daya kelautan dapat dirasakan masyarakat.
“Konservasi, pemeliharaan ekosistem laut, dan dukungan anggaran harus menjadi prioritas agar potensi pesisir benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat,” ujar Panggah saat meninjau lokasi konservasi di Pantai Mengiat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana, menyampaikan bahwa pengelolaan sumber daya laut di Bali selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang menempatkan laut sebagai sumber kehidupan, budaya, sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Menurutnya, pengembangan produk unggulan seperti garam khas Bali menjadi salah satu langkah nyata untuk menjaga kelestarian laut sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi daerah.
Dukungan juga datang dari pelaku masyarakat pesisir. Perwakilan Koperasi Yasa Segara berharap sinergi antara pemerintah dan DPR RI dapat terus memperkuat kapasitas koperasi, kelompok nelayan, serta pelaku wisata bahari berbasis masyarakat melalui penyediaan sarana dan prasarana, pelatihan, hingga kemudahan akses pembiayaan.
Penguatan kelembagaan masyarakat dinilai menjadi faktor penting agar program pembangunan sektor kelautan tidak hanya berdampak pada perbaikan lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.
Melalui program Indonesia Coral Reef Garden, KKP menunjukkan bahwa konservasi laut dapat berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi. Restorasi ekosistem terumbu karang, pemberdayaan masyarakat, pengembangan wisata bahari, hingga penciptaan lapangan kerja menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mewujudkan pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan sekaligus memperkuat ekonomi biru di Indonesia. (sn)



