SAMUDERANESIA.CO.ID – Yayasan Sail Indonesia Jaya (YSIJ) bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya resmi menjalin kerja sama melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) di atas geladak KRI Dewa Ruci, Jumat (10/7/2026). Penandatanganan yang berlangsung bersamaan dengan kegiatan Open Ship & Junior Maritime Adventure itu menjadi langkah strategis dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi, TNI Angkatan Laut, dan lembaga nirlaba untuk mendukung pengembangan budaya maritim Indonesia.
Melalui kerja sama tersebut, KRI Dewa Ruci tidak hanya menjalankan fungsi sebagai kapal latih Taruna Akademi Angkatan Laut, tetapi juga akan dimanfaatkan sebagai laboratorium terapung bagi mahasiswa, dosen, dan peneliti ITS. Kapal bersejarah itu akan menjadi sarana pembelajaran lapangan bagi berbagai disiplin ilmu, seperti Teknik Perkapalan, Teknik Sistem Perkapalan, Teknik Kelautan, Teknik Mesin, Arsitektur Interior Kapal, Teknologi Maritim, hingga konservasi dan rekayasa kapal bersejarah.
Ketua Harian Yayasan Sail Indonesia Jaya, Aji Sularso, mengatakan KRI Dewa Ruci memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar kapal layar bersejarah.
“KRI Dewa Ruci bukan hanya kapal layar bersejarah. Kapal ini adalah sekolah kehidupan. Di atas kapal inilah nilai disiplin, kepemimpinan, kerja sama, keberanian, kecintaan kepada laut, dan karakter kebangsaan dibentuk. Melalui kerja sama dengan ITS, kami ingin menjadikan KRI Dewa Ruci sebagai laboratorium pendidikan maritim yang hidup sekaligus menjaga warisan budaya bangsa untuk generasi mendatang,” ujar Aji Sularso.
Menurutnya, kolaborasi ini akan membuka ruang yang lebih luas bagi sivitas akademika ITS untuk melakukan praktikum, penelitian, hingga penyusunan skripsi, tesis, dan disertasi secara langsung di atas kapal bersejarah tersebut.
“Desainer kapal terbaik di Indonesia itu adanya di ITS. Jangka panjang target dari kesepakatan ini, selain rutin dijadikan laboratorium, praktikum mahasiswa, maupun nanti untuk skripsi, tesis, dan disertasi, ini menjadi sangat baik. Selama ini laboratorium ITS berada di dalam ruangan, sedangkan melalui kerja sama ini mahasiswa bisa praktik langsung di kapal bersejarah,” tambahnya.
Salah satu fokus utama dalam MoU tersebut adalah penyusunan program konservasi dan restorasi KRI Dewa Ruci, yang sejak 2023 telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya Bergerak. Program tersebut meliputi kajian teknis kondisi kapal, penelitian material dan struktur, pengembangan teknologi ramah lingkungan, hingga penyusunan roadmap restorasi jangka panjang dengan melibatkan mahasiswa melalui pendekatan project-based learning.
Selain penandatanganan MoU, kegiatan Open Ship & Junior Maritime Adventure juga memberikan kesempatan kepada para pelajar untuk mengenal lebih dekat kehidupan pelaut, kedisiplinan di atas kapal, navigasi, kepemimpinan, serta sejarah kejayaan maritim Indonesia. Kegiatan edukatif tersebut diselenggarakan oleh Ecoethno Bandung sebagai bagian dari upaya membangun karakter generasi muda melalui pendidikan kemaritiman.
Penandatanganan kerja sama turut dihadiri jajaran pimpinan ITS, di antaranya Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi dan Kealumnian Prof. Agus Muhammad Hatta, Wakil Ketua Majelis Wali Amanat ITS Prof. Sjarief Widjaja, Ketua Komisi Akademik Senat Akademik ITS Prof. Eko Budi Djatmiko, serta Dekan Fakultas Teknologi Kelautan ITS Dr.-Ing. Setyo Nugroho. Pimpinan ITS menyatakan dukungan penuh terhadap kerja sama tersebut sebagai langkah memperkuat pendidikan tinggi berbasis kemaritiman.
Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara TNI Angkatan Laut dan Yayasan Sail Indonesia Jaya terkait pemanfaatan kapal layar TNI AL, yakni KRI Bima Suci, KRI Dewa Ruci, dan KRI Arung Samudera, untuk mendukung pendidikan, diplomasi maritim, pelatihan, dan promosi budaya. Melalui kerja sama tersebut, YSIJ dipercaya menjadi mitra strategis dalam mengembangkan pemanfaatan kapal-kapal layar TNI AL di luar fungsi utamanya sebagai sarana pendidikan Taruna Akademi Angkatan Laut.
Program-program yang dikembangkan YSIJ juga dirancang untuk menjangkau pelajar, mahasiswa, guru, komunitas maritim, organisasi kepemudaan, dunia industri, hingga masyarakat umum dengan tetap mengedepankan pendidikan, pembentukan karakter, diplomasi maritim, dan kepentingan nasional.
Ketua Umum Yayasan Sail Indonesia Jaya, Dave Akbarsyah Fikarno, yang juga Anggota DPR RI Komisi I, disebut memiliki komitmen untuk mendorong program-program yayasan menjadi bagian dari agenda nasional dalam membangun karakter bahari bangsa. Hingga kini, YSIJ telah menjalin maupun menjajaki kerja sama dengan berbagai lembaga, di antaranya Pacific Asia Travel Association (PATA), Ecoethno Bandung, Yayasan Cendekia, Lemhannas, serta Kementerian Pendidikan untuk mendukung program vokasi dan penguatan wawasan kebangsaan.
Sementara itu, Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi dan Kealumnian ITS, Prof. Agus Muhammad Hatta, menegaskan bahwa kolaborasi menjadi kunci dalam pengembangan pendidikan maritim sekaligus pelestarian warisan budaya.
“Momentum saat ini adalah kolaborasi. Tidak ada pihak yang akan unggul sendiri. Dewa Ruci sebagai living heritage harus terus hidup melalui program restorasi dan konservasi. Program ini dapat disinergikan dengan Kementerian Kebudayaan maupun kementerian lainnya, sementara ITS siap menjadi pusat pengembangan aspek teknisnya,” ujar Prof. Agus.
Ia menambahkan, ITS telah mengajukan permohonan audiensi kepada Menteri Kebudayaan untuk memperkenalkan program konservasi tersebut agar dapat menjadi bagian dari agenda nasional melalui kolaborasi lintas kementerian dan berbagai pemangku kepentingan.
Melalui kerja sama ini, KRI Dewa Ruci diharapkan tidak hanya tetap menjadi simbol kejayaan maritim Indonesia, tetapi juga berkembang sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan konservasi yang menghubungkan pelestarian warisan budaya dengan pengembangan ilmu pengetahuan serta pembentukan karakter generasi muda Indonesia.


