Lamun yang Tak Banyak Dilihat, tetapi Menjaga Banyak Kehidupan

Pagi belum benar-benar ramai ketika tim peneliti kembali menyusuri pesisir Kepulauan Kei Kecil.

Dari permukaan, kawasan itu tampak seperti pesisir pada umumnya. Air laut membentang di antara pulau-pulau kecil. Perahu bergerak di sekitar pantai. Warga menjalankan aktivitas sehari-hari di ruang yang sejak lama menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Namun, beberapa meter di bawah permukaan, terdapat ekosistem yang tidak selalu terlihat.

Hamparan lamun tumbuh mengikuti gerakan arus.

Lamun mungkin tidak sepopuler terumbu karang. Ia juga tidak semegah mangrove yang berdiri di tepian pantai. Namun, ekosistem ini memiliki peran penting bagi kehidupan laut dan masyarakat pesisir.

Untuk melihat lebih jauh peran tersebut, tim peneliti melakukan survei ekosistem lamun di Kepulauan Kei Kecil melalui kolaborasi Yayasan Samudera Indonesia Timur (YSIT) dengan tim dari Direktorat Perencanaan Ruang Perairan DJPRL, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

Masing-masing tim membawa keahlian berbeda.

Prof. Ch Tupan dan Krisye Pasanea dari tim ekologi mengamati kondisi lamun dan kesehatan ekosistem. Adhitya Nugroho dari tim pemetaan memanfaatkan citra satelit untuk membaca sebaran lamun. Agustin Rustam dari tim karbon biru mengkaji potensi karbon yang tersimpan dalam biomassa dan sedimen. Sementara itu, Zhaky dari Polikant bersama tim sosial-ekonomi-budaya mendatangi masyarakat untuk memahami hubungan mereka dengan ruang laut.

Dari survei itu, muncul cerita yang berbeda dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Rewaf dan Bararan, Dua Wajah Lamun Kei Kecil

Di Rewaf, tim menemukan sembilan spesies lamun dengan tutupan sekitar 67,42 persen. Lokasi ini juga menunjukkan indeks ikan tertinggi dibandingkan lokasi lain yang disurvei.

Kondisi berbeda terlihat di Dulah Laut. Kondisi perairan mendukung pertumbuhan lamun dan indeks kesehatan ekosistem berada dalam kategori baik.

Namun, cerita berubah ketika tim tiba di Bararan.

Di lokasi ini, tim hanya menemukan dua spesies lamun dengan tutupan sekitar 22,35 persen. Indeks ikan juga berada pada tingkat rendah. Hasil survei ekologi menunjukkan Bararan sebagai lokasi dengan kondisi paling tertekan dalam kajian tersebut.

Perbedaan itu menunjukkan bahwa kondisi lamun tidak seragam. Ada lokasi dengan tutupan padat, tetapi menghadapi persoalan epifit. Ada lokasi dengan tutupan sedang yang menghadapi persoalan kecerahan air. Ada pula lokasi dengan kekayaan spesies yang lebih rendah.

Bagi peneliti, perbedaan tersebut menjadi data untuk membaca kondisi ekosistem.

Bagi masyarakat, perubahan itu bisa menjadi bagian dari pengalaman yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

Lamun dan Ruang Hidup Masyarakat

Survei sosial-ekonomi-budaya menunjukkan hubungan yang cukup kuat antara masyarakat dan ekosistem lamun.

Tim Sosekbud melakukan wawancara pada masyarakat pesisir/Dok. Samuderanesia

Sebanyak 98,3 persen responden mengenal lamun, sementara 89,5 persen mengetahui manfaatnya. Hampir seluruh responden juga pernah melakukan aktivitas di kawasan lamun.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa lamun bukan sekadar objek penelitian. Ekosistem ini menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat pesisir.

Namun, masyarakat juga melihat adanya perubahan.

Sebanyak 66 persen responden mempersepsikan kondisi lamun telah rusak atau mengalami degradasi. Angka tersebut bukan hasil pengukuran ekologis. Data itu merepresentasikan persepsi masyarakat terhadap perubahan lingkungan yang mereka alami.

Persepsi tersebut tetap penting karena masyarakat berinteraksi langsung dengan kawasan pesisir.

Ketika peneliti menanyakan perlunya perlindungan lamun, 92,5 persen responden menyatakan dukungan.

Namun, dukungan terhadap perlindungan tidak otomatis berarti masyarakat menyetujui semua bentuk pembatasan aktivitas.

Kesediaan terhadap zona pelestarian berada di sekitar 63,9 persen. Sementara persetujuan terhadap pembatasan aktivitas mencapai sekitar 64,3 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan lamun membutuhkan pembicaraan yang lebih luas. Perlindungan ekosistem harus berjalan bersama dengan pemahaman terhadap aktivitas masyarakat yang bergantung pada ruang laut.

Di Antara Ikan, Rumput Laut dan Karbon

Ruang laut di Kei Kecil memiliki banyak fungsi sekaligus.

Tim Stok Karbon mengidentifikasi jenis lamun di titik lokasi pengambilan sampel/Dok. Samuderanesisa

Di tempat yang sama, masyarakat menangkap ikan, membudidayakan rumput laut, mengambil bameti, mencari tripang, dan menjalankan aktivitas adat. Di bawah permukaan, lamun juga menyimpan karbon.

Tim karbon biru menemukan variasi biomassa yang cukup besar antar lokasi. Sejumlah kawasan dengan lamun berukuran besar menunjukkan potensi sebagai hotspot karbon.

Di Pulau Enam, tim bahkan menemukan nilai biomassa bawah yang sangat tinggi pada lokasi tertentu.

Karbon tersebut tidak selalu terlihat. Sebagian tersimpan dalam akar dan rimpang lamun serta sedimen di bawahnya.

Karena itu, tim merekomendasikan pengambilan sampel sedimen yang lebih dalam dan pemasangan plot permanen. Langkah tersebut penting untuk mendapatkan gambaran perubahan karbon dari waktu ke waktu.

Membaca Lamun dari Atas

Tim Pemetaan sedang mengambil data spasial/Dok. Samuderanesia

Selain melihat kondisi lamun secara langsung, tim juga menggunakan teknologi untuk membaca ekosistem dari atas.

Tim pemetaan memanfaatkan citra Sentinel dan algoritma Random Forest untuk memetakan sebaran lamun. Berdasarkan gabungan data 2025 dan 2026, tim memetakan sekitar 2.550,58 hektare lamun.

Sementara itu, estimasi luas lamun di seluruh Kepulauan Kei Kecil mencapai sekitar 11.531,39 hektare.

Peta tersebut memberikan gambaran mengenai sebaran lamun dalam skala kawasan.

Namun, peta saja tidak cukup.

Data spasial kemudian perlu dibaca bersama data ekologi. Data ekologi perlu dipertemukan dengan data karbon. Seluruhnya kemudian perlu dibandingkan dengan kondisi sosial dan aktivitas masyarakat.

Di titik itulah empat pendekatan penelitian bertemu.

Ketika Garis di Peta Bertemu Kehidupan

Tim ekologi melakukan pengambilan data transek lamun/Dok. Samuderanesia

Survei kolaboratif di Kei Kecil memperlihatkan bahwa ruang laut tidak dapat dipahami hanya dari satu sudut pandang.

Tim ekologi melihat kondisi dan keanekaragaman lamun. Tim pemetaan melihat bentang ekosistem melalui citra satelit. Tim karbon biru melihat karbon yang tersimpan di dalam ekosistem. Sementara tim sosial-ekonomi-budaya melihat hubungan masyarakat dengan ruang laut.

Keempat pendekatan tersebut menghasilkan satu gambaran yang saling melengkapi.

Ada kawasan yang perlu dilindungi. Ada yang membutuhkan pemantauan. Ada pula lokasi yang memerlukan pemulihan.

Di sisi lain, terdapat masyarakat yang kehidupannya bergantung pada ruang laut tersebut.

Karena itu, ketika hasil survei menjadi bagian dari perencanaan zonasi Kepulauan Kei Kecil, persoalannya bukan sekadar menentukan warna pada peta.

Sebuah garis zonasi dapat memiliki arti berbeda bagi setiap orang.

Bagi perencana, garis tersebut menunjukkan batas kawasan. Bagi masyarakat, garis yang sama bisa berarti wilayah mencari ikan, tempat bekerja, ruang adat, atau bagian dari kehidupan keluarga.

Karena itu, data ilmiah perlu berjalan bersama pengetahuan dan pengalaman masyarakat.

Pada akhirnya, hamparan lamun di bawah laut Kei Kecil menyimpan cerita yang lebih besar daripada apa yang terlihat dari permukaan.

Di dalamnya terdapat ikan, karbon, ruang penghidupan, aktivitas ekonomi, dan nilai budaya masyarakat pesisir.

Sehelai lamun mungkin terlihat kecil ketika bergoyang mengikuti arus. Namun, ekosistem yang terbentuk dari hamparan lamun memiliki hubungan dengan banyak aspek kehidupan di sekitarnya.

Itulah alasan ekosistem ini perlu diperhatikan.

Bukan hanya untuk melihat kondisinya hari ini, tetapi juga untuk memastikan laut tetap sehat dan masyarakat tetap memiliki ruang hidup pada masa yang akan datang.

Penulis : AHS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *