SAMUDERANESIA.CO.ID – Operasionalisasi Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) di Desa Tongke-Tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mulai memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi masyarakat pesisir. Sejak beroperasi pada Mei 2026, pendapatan nelayan setempat dilaporkan meningkat dari rata-rata Rp4 juta menjadi Rp7 juta per bulan, seiring kenaikan harga jual ikan tuna dan terbukanya akses pasar yang lebih luas.
Peningkatan tersebut ditandai dengan pengiriman 12 ton produk tuna loin dari KNMP Tongke-Tongke ke Jakarta, Selasa (29/9/2026). Produk olahan perikanan tersebut akan menjadi bahan baku unit pengolahan ikan (UPI) di Ibu Kota sebelum selanjutnya dipasarkan untuk kebutuhan ekspor.
Pelepasan pengiriman 12 ton tuna loin itu dilakukan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono bersama Menteri Koperasi Ferry Juliantono di KNMP Tongke-Tongke. Pengiriman tersebut sekaligus menunjukkan perkembangan kegiatan usaha perikanan yang didukung oleh fasilitas pengolahan dan kemitraan koperasi.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Operasionalisasi KNMP yang juga Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antarlembaga, Irjen Pol Victor Gustaaf Manoppo, mengatakan konsistensi pengiriman produk perikanan dari Tongke-Tongke ke luar daerah menjadi indikasi berkembangnya ekosistem bisnis perikanan di wilayah tersebut.
“Ini tentu membawa dampak ekonomi yang lebih baik kepada para nelayan sekitar,” ujar Victor dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (27/9/2026).
Menurut Victor, keberadaan KNMP tidak hanya mendukung peningkatan produktivitas perikanan, tetapi juga membuka peluang bagi nelayan untuk memperoleh nilai ekonomi yang lebih tinggi dari hasil tangkapan. Penguatan rantai pasok dan perluasan jaringan pemasaran menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing produk perikanan lokal.
Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Usaha Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) sekaligus Sekretaris Satgas Operasionalisasi KNMP, Ali Rahmat Iman Santoso, menjelaskan kenaikan pendapatan nelayan turut didorong oleh peningkatan harga jual ikan tuna. Sebelumnya, ikan tuna hasil tangkapan nelayan dihargai sekitar Rp25.000 hingga Rp30.000 per kilogram. Kini, harganya meningkat menjadi Rp45.000 per kilogram.
“Dari yang semula berkisar Rp4 juta per nelayan, kini telah meningkat drastis menjadi Rp7 juta per orangnya,” jelas Ali.
Selain meningkatkan harga jual, KNMP Tongke-Tongke juga menghadirkan proses pengolahan yang memberikan nilai tambah terhadap hasil tangkapan nelayan. Ikan tuna yang sebelumnya dijual dalam kondisi segar kini dapat diolah menjadi tuna loin dengan dukungan fasilitas pengolahan yang tersedia di kawasan tersebut.
Sebelum pengiriman terbaru sebanyak 12 ton, KNMP Tongke-Tongke juga telah mengirimkan 65 ton tuna loin senilai Rp2,54 miliar ke Jakarta melalui mitra koperasi. Pengiriman tersebut memperlihatkan perkembangan distribusi produk olahan perikanan dari Sinjai sekaligus memperluas peluang pemasaran bagi hasil tangkapan nelayan setempat.
Tidak hanya tuna loin, bagian lain dari ikan tuna seperti tetelan, rahang atau kama, toro atau bagian perut, serta daging merah hasil pemotongan juga dimanfaatkan dan dipasarkan ke Jakarta. Pemanfaatan berbagai bagian ikan tersebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil pengolahan sekaligus mengurangi bagian yang tidak termanfaatkan.
“Dengan demikian, hasil pengolahan tuna tidak hanya berupa produk utama tuna loin, tetapi juga bagian-bagian hasil samping yang masih memiliki nilai ekonomi,” kata Ali.
Dari sisi pemberdayaan masyarakat, KNMP Tongke-Tongke yang menjadi salah satu unit bisnis Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) telah menyerap 39 tenaga kerja lokal dan memiliki 80 anggota. Kehadiran fasilitas tersebut juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat, mulai dari kegiatan pengolahan hingga distribusi produk perikanan.
Bupati Sinjai Ratnawati Arif menilai keberadaan KNMP menjadi salah satu langkah penting dalam mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Menurut dia, fasilitas seperti cold storage dapat membantu menjaga kualitas ikan, memperpanjang masa penyimpanan, serta meningkatkan nilai jual hasil tangkapan nelayan. Selain itu, penguatan koperasi diharapkan dapat memperluas akses pasar dan mengurangi ketergantungan nelayan terhadap tengkulak.
Ratnawati menyampaikan, program KNMP diproyeksikan mampu meningkatkan produksi perikanan rata-rata hingga sekitar 800 ton per tahun pada setiap lokasi dan menaikkan pendapatan nelayan hingga 75 persen. Target tersebut diharapkan dapat dicapai melalui penguatan sarana produksi, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan jaringan pemasaran yang berkelanjutan.
Untuk mendukung operasionalisasi KNMP, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah membangun berbagai sarana dan prasarana, meliputi dermaga atau tambatan perahu, pabrik es, gudang beku, kios perbekalan, tempat pendaratan ikan, sentra kuliner, hingga kendaraan berpendingin. Infrastruktur tersebut disiapkan untuk mendukung aktivitas nelayan, menjaga mutu hasil tangkapan, serta memperlancar distribusi produk perikanan.
Selain pembangunan infrastruktur, KKP juga memberikan pendampingan kepada anggota koperasi dan nelayan, mulai dari penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, akses pembiayaan, hingga perluasan akses pasar. Melalui dukungan tersebut, operasionalisasi KNMP diharapkan tidak hanya meningkatkan produktivitas perikanan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pesisir secara berkelanjutan. (sn)

