SAMUDERANESIA.CO.ID – Ikan yang melimpah di laut belum tentu seluruhnya berubah menjadi pendapatan bagi masyarakat pesisir. Di wilayah terpencil, keterbatasan fasilitas penyimpanan membuat hasil tangkapan yang belum segera terjual rentan kehilangan mutu. Persoalan inilah yang mendorong kebutuhan akan teknologi cold storage yang tidak hanya mampu menjaga kualitas ikan, tetapi juga efisien untuk diterapkan di kawasan dengan keterbatasan energi dan infrastruktur.
Kebutuhan tersebut menjadi semakin relevan dalam pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Selama ini, penggunaan es menjadi salah satu cara yang umum dilakukan untuk mempertahankan kesegaran hasil tangkapan. Namun, ketika ikan harus menunggu lebih lama sebelum terjual atau dikirim keluar wilayah, es tidak selalu mampu menjawab kebutuhan penyimpanan. Akibatnya, ikan dapat mengalami penurunan mutu, harga jual merosot, hingga berakhir sebagai fish waste.
Anggota Komisi IV DPR RI Prof. Rokhmin Dahuri menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya membangun sistem rantai dingin secara menyeluruh, bukan sekadar menyediakan tempat penyimpanan. Menurutnya, penanganan hasil perikanan harus terjaga sejak ikan ditangkap, didaratkan, disimpan, diolah, didistribusikan hingga sampai kepada konsumen.
“Produk perikanan merupakan komoditas yang sangat mudah rusak. Karena itu, penanganan dan transportasinya harus dilakukan dalam sistem rantai dingin agar mutu tetap terjaga dan nilai ekonominya tidak hilang,” ujar Rokhmin.
Ia menyebut produksi perikanan Indonesia dari sektor tangkap dan budidaya mencapai sekitar 15 juta ton per tahun. Namun, pemanfaatan sistem rantai dingin masih kurang dari 12 persen. Menurutnya, kesenjangan tersebut turut menyebabkan besarnya potensi produksi perikanan Indonesia belum sepenuhnya memberikan nilai tambah, sementara hasil tangkapan yang rusak menjadi kerugian langsung bagi masyarakat.
“Ketika mutu ikan menurun, kerugiannya bukan hanya dari sisi ekonomi. Ada persoalan kesehatan dan keamanan pangan, sementara daya saing serta nilai ekspor perikanan Indonesia juga ikut terdampak,” katanya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, teknologi rendah karbon dinilai dapat menjadi bagian dari solusi, khususnya bagi kawasan kepulauan dan remote area. Rokhmin mendorong pemanfaatan energi surya karena Indonesia memiliki potensi matahari yang besar. Teknologi tersebut dapat diterapkan untuk mendukung cold storage, refrigerator, cool box, hingga kapal perikanan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
“Teknologi rendah karbon harus mulai kita manfaatkan. Indonesia memiliki sumber energi matahari yang sangat besar, sehingga energi tersebut dapat digunakan untuk mendukung sistem rantai dingin di sektor perikanan,” ujar Rokhmin.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, PT DS Solutions International sebagai perwakilan resmi TITAN Containers di Indonesia akan menghadirkan teknologi portable cold storage dalam RHVAC Indonesia 2026 pada 9–11 September 2026 di Nusantara Indonesia Convention Exhibition (NICE), PIK2, Hall 5 & 6. Kehadiran TITAN menjadi salah satu upaya memperkenalkan alternatif penyimpanan bersuhu terkendali yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan berbagai sektor, termasuk perikanan.
Dalam pameran tersebut, TITAN Containers menampilkan ArcticBlast 20FT dan ArcticStore Horizon 40FT yang dapat dilihat dan dimasuki langsung oleh pengunjung. ArcticBlast dirancang untuk kebutuhan rapid chilling dan blast freezing dengan kemampuan pendinginan hingga -40°C, sedangkan ArcticStore Horizon memiliki rentang suhu -30°C hingga +30°C dan merupakan salah satu model generasi terbaru TITAN yang diperkenalkan di Indonesia.
Tidak hanya menawarkan kapasitas penyimpanan bersuhu terkendali, TITAN juga membawa pendekatan efisiensi energi. ArcticStore Horizon disebut memiliki efisiensi energi rata-rata hingga 55 persen lebih baik dibandingkan reefer konvensional. Unit ini menggunakan teknologi panel insulasi dan refrigeran dengan Global Warming Potential (GWP) 0,5 serta dapat dilengkapi panel surya sebagai opsi tambahan yang secara tipikal diklaim mampu mengurangi konsumsi energi hingga 25 persen lebih lanjut.
Selain ArcticStore Horizon dan ArcticBlast, TITAN Containers menyediakan sejumlah solusi untuk kebutuhan berbeda, antara lain ArcticStore untuk penyimpanan bersuhu terkendali, UltraFreezer untuk kebutuhan suhu ultra-rendah hingga -65°C, serta SuperStore yang memungkinkan penggabungan beberapa unit untuk kapasitas yang lebih besar. Pilihan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan suhu, kapasitas, serta pola operasional pengguna.
Meski teknologi menjadi bagian penting dari solusi, Rokhmin mengingatkan agar pemanfaatan teknologi asing tetap diarahkan untuk memperkuat industri nasional. Menurutnya, apabila teknologi tertentu belum mampu diproduksi di dalam negeri, kerja sama dengan perusahaan asing tetap dapat dilakukan, tetapi harus disertai upaya meningkatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), alih teknologi, nilai tambah, dan penyerapan tenaga kerja Indonesia.
“Kalau memang belum ada perusahaan dalam negeri yang mampu memproduksinya, tidak ada masalah bekerja sama dengan perusahaan asing. Tetapi manfaat kerja sama itu harus kembali kepada Indonesia melalui alih teknologi, peningkatan nilai tambah, dan tenaga kerja. Jangan sampai kita hanya mengimpor produk secara utuh tanpa ada komponen yang berkembang di dalam negeri,” tegasnya.
Penguatan rantai dingin, menurut Rokhmin, juga tidak dapat dibebankan kepada pemerintah atau industri saja. Diperlukan pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, swasta, akademisi dan peneliti, komunitas masyarakat perikanan, serta media. Pemerintah memiliki posisi strategis karena berwenang menetapkan regulasi dan mengalokasikan anggaran, sementara industri menghadirkan investasi dan teknologi seperti solusi cold storage yang ditawarkan TITAN.
Pembahasan mengenai efisiensi teknologi tersebut akan diperluas melalui presentasi bisnis TITAN bertajuk “Optimalisasi Biaya Operasional Melalui Teknologi Cold Storage Portable dari TITAN Containers” pada Kamis, 10 September 2026, pukul 10.00–12.00 WIB di Conference Area RHVAC Indonesia 2026. Sesi ini menghadirkan Kelvin, Advisor TITAN Containers Indonesia/PT DS Solutions International, dan Barbora Vorage, Director of Business Partnerships TITAN Containers dari Denmark, untuk membahas kebutuhan penyimpanan bersuhu terkendali, efisiensi operasional, serta peluang pengembangan rantai dingin di Indonesia.
Ketika ikan tidak lagi kehilangan nilai sebelum sampai ke pasar, manfaatnya tidak berhenti pada terjaganya kualitas produk. Ada pendapatan masyarakat yang terselamatkan, limbah yang dapat ditekan, dan peluang nilai tambah yang lebih besar bagi sektor perikanan. Di tengah kebutuhan tersebut, teknologi portable cold storage TITAN menawarkan salah satu pilihan solusi yang dapat dikembangkan bersama kebijakan pemerintah dan energi rendah karbon untuk menjawab tantangan rantai dingin, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan. (zee)



