SAMUDERANESIA.CO.ID – Ekonomi biru Indonesia menjadi salah satu fokus pembahasan Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-22 Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) di Kampus Universitas Udayana, Bali, Kamis (15/10/2026). Trenggono mengajak akademisi dan peneliti memberikan masukan berbasis ilmu pengetahuan untuk memperkuat perlindungan ekosistem laut, pengembangan budidaya perikanan, serta penguasaan teknologi kelautan.
Trenggono berharap para peserta merumuskan rekomendasi berbasis ilmu pengetahuan untuk menjaga kesehatan laut Indonesia. Ia menyoroti perlindungan ekosistem, pengembangan budidaya perikanan, serta penguasaan teknologi dan inovasi untuk meningkatkan daya saing produk perikanan nasional.
“Harapan saya, kami akan mendapatkan rumusan-rumusan pemikiran arahnya mau ke mana, bagaimana Indonesia dalam kurun waktu tertentu mampu menjaga laut kita supaya tetap sehat. Jika kita ingin memiliki keunggulan kompetitif seperti apa yang harus dikuasai,” kata Menteri Trenggono saat memberikan sambutan dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) ke-22 Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI) di Kampus Universitas Udayana, Bali, Kamis (15/10/2026).
Trenggono menilai pertumbuhan penduduk dunia akan meningkatkan kebutuhan pangan, energi, dan sumber daya alam. Ia memperkirakan populasi dunia mendekati 10 miliar jiwa pada 2050, sementara daya dukung lingkungan memiliki keterbatasan.
“Kalau kita bicara kedaulatan bukan juga hanya kedaulatan wilayah dan negara, namun juga kedaulatan daripada ekologi itu sendiri harus dijaga,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kesehatan ekosistem laut berkaitan langsung dengan kehidupan generasi mendatang. Menurutnya, laut tidak hanya menyediakan pangan dan mata pencaharian, tetapi juga menopang keberlangsungan kehidupan manusia.
KKP menargetkan luas kawasan konservasi laut Indonesia mencapai 97,5 juta hektare pada 2045. Trenggono menekankan pentingnya menjaga kawasan tersebut agar rantai kehidupan biota laut tetap berlangsung dan sumber daya perikanan terus berkelanjutan.
Selain memperluas konservasi, KKP mendorong pengelolaan perikanan terukur untuk mengendalikan eksploitasi sumber daya laut. Kebijakan ini bertujuan menjaga populasi ikan sekaligus mempertahankan mata pencaharian masyarakat pesisir.
Trenggono menyebut sekitar 3,2 juta keluarga Indonesia menggantungkan hidup pada wilayah pesisir dan pulau-pulau. Karena itu, ia mendorong pengembangan ekonomi biru yang mampu meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan masyarakat.
KKP juga mengembangkan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) untuk memperkuat sarana dan prasarana penunjang aktivitas nelayan. Pemerintah turut mendorong diversifikasi ekonomi pesisir melalui budidaya rumput laut, yang berpotensi memasok bahan pangan, bahan baku industri, dan energi.
Di sektor budidaya perikanan, KKP mengembangkan model budidaya udang terintegrasi dan teknologi budidaya ikan yang lebih produktif. Trenggono berharap inovasi tersebut meningkatkan pasokan protein nasional tanpa menambah tekanan terhadap ekosistem.
“Ukuran hebat ketika industrinya hidup,” ujarnya.
Trenggono juga mengingatkan masyarakat tentang ancaman sampah plastik terhadap ekosistem laut. Ia menekankan pentingnya mencegah sampah sejak dari daratan agar tidak mencemari laut.(che)

