Penyakit Ice-ice Muncul Pembudidaya Rumput Laut di Ohoidertawun Gagal Panen

Penyakit Ice-ice Muncul Pembudidaya Rumput Laut di Ohoidertawun Gagal Panen

SAMUDERANESIA.CO.ID – Para pembudidaya rumput laut Ohoidertawun, Maluku Tenggara meradang, dan gelisa. Setelah hampir 2 bulan terakhir rumput laut yang ditanam terkena serangan hama. Masyarakat mengenal jenis hama dengan sebutan ice-ice yang merupakan penyebab utama gagal panen budidaya rumput laut. yang ditandai dengan memutih dan rapuhnya thallus (batang) akibat infeksi bakteri (Vibrio spp., dll.) yang dipicu oleh perubahan lingkungan ekstrem seperti suhu tinggi dan salinitas tidak stabil.

“Sudah sejak akhir November 2025 hama mulai terlihat pada rumput laut yang kami tanam. Mencoba potong yang putih-putih dengan harapan sisahnya bisa tumbuh, ternyata sampai hitungan 2 bulan rumput laut di dalam air bukan tambah besar melainkan tambah habis,” keluh Jumra rumyaan, pembudidaya rumput laut di desa Ohoidertawun, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, Kamis (12/2/2026).

Menurut pria berusia paruhbaya itu (40 tahun), sudah 20 tahun melakukan budidaya rumput laut tapi pengalaman yang paling membuat mereka tidak nyaman ketika hama menerpa. Karena kalau sudah kena penyakit ini pasti merusak tanaman, seringkali membuat pembudidaya kehilangan hasil panen.  Menurut Jum awal melakukan budidaya semua tampak normal saja, tapi lama-lama rumput laut memutih (seperti lilin), menjadi rapuh, mudah patah, dan akhirnya membusuk, yang menyebabkan rumput laut tidak berkembang dan patah-patah.

Menurut Doktor Maya Puspita peneliti yang konsen bidang rumput laut dari Universitas Diponegoro, Semarang, menjelaskan penyeban utama penyakit itu muncul dari perubahan iklim dan kondisi lingkungan yang mendadak, seperti suhu air yang terlalu tinggi, penurunan salinitas (kadar garam) akibat curah hujan tinggi, dan intensitas cahaya yang ekstrem. Lalu infeksi bakteri Pseudoalteromonas gracilis, Pseudomonas spp., dan Vibrio spp. sering ditemukan pada rumput laut yang terinfeksi ice-ice.

Kalau sudah terkena penyakit ini pasti pembudidaya akan mengalamin kerugian ekonomi signifikan, di mana hasil panen turun drastis, misalnya dari 30 ton menjadi hanya 1 ton di beberapa wilayah.

“Sejauh ini kalau sudah mulai ada tanda-tanda penyakit muncul, lekas panen, setelah itu bisa diganti dengan varietas lain. Karena dari berbagai ilmuan dan penelitian yang kami lakukan, belum ada solusi atau pencegahan selain antisipasi panen lebih awal sebelum rumput laut habis dimakan hama,” ujar Doktor Maya.

Langkah pencegahan yang disarankan pembudidaya melakukan pembersihan rutin, memilih bibit unggul, mengatur jarak tanam, menghindari penanaman pada musim peralihan/ekstrem, dan memantau kondisi lingkungan. 
Langkah antisipasi yang tepat, seperti penyesuaian waktu tanam, sangat krusial untuk menghindari kerugian yang lebih besar. 

“Kalau dari beberapa kali pembahasan yang kami lakukan dengan para ahli baik dalam dan luar negeri, memilih jenis lain yang lebih tahan dibanding yang lajim dibudidayakan oleh masyarakat. Misalnya dari cottonii coklat, beralih ke jenis sakul cottonii hijau,” ujar Kepala Dinas Provinsi Maluku, Erawan Asikin. (sn)

Jumra rumyaan menjelaskan Rumput Laut dimakan hama Ice-ice. Pembudidaya rumput laut di desa Ohoidertawun, Kecamatan Kei Kecil, Maluku Tenggara, gagal panen/istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *