SAMUDERANESI.CO.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Yayasan WWF Indonesia mengungkap berbagai temuan penting hasil Ekspedisi Kawasan Konservasi Kepulauan Romang dan Damer, Maluku Barat Daya (MBD), dalam kegiatan talkshow Bincang Bahari yang digelar di Kantor KKP, Jakarta Pusat, Kamis (5/2/2026).
Ekspedisi ilmiah yang berlangsung selama satu bulan, pada 3 Oktober hingga 3 November 2025, berhasil mengukuhkan perairan Maluku Barat Daya sebagai salah satu ekosistem laut paling resilien di dunia. Wilayah ini diketahui mendapat pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia, serta menjadi benteng terakhir keanekaragaman hayati laut global di tengah ancaman perubahan iklim.
“Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal sejalan dengan implementasi ekonomi biru. Dalam konteks tersebut, hasil Ekspedisi Romang–Damer 2025 menjadi kontribusi penting dalam mendukung pengambilan keputusan di tingkat pusat maupun daerah,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan, Koswara.
Hasil ekspedisi mencatat bahwa perairan Maluku Barat Daya merupakan koridor migrasi utama bagi 24 spesies laut terancam punah dan dilindungi, di antaranya paus biru, orca, hiu martil, berbagai jenis penyu, hingga dugong. Dalam satu lokasi, tim peneliti menemukan sedikitnya 32 individu dugong, menjadikannya sebagai temuan habitat dugong terbesar yang pernah tercatat di Indonesia dan tergolong langka secara global.
Selain itu, ekosistem lamun yang menjadi habitat utama dugong teridentifikasi dalam kondisi sangat baik dengan tutupan lebih dari 50 persen. Tim ekspedisi juga menemukan sembilan jenis lamun, atau sekitar dua pertiga dari total 14 jenis lamun yang tercatat di Indonesia. Sementara itu, kondisi terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer berada pada kategori sedang hingga baik, dengan rata-rata tutupan mencapai 51,4 persen, jauh di atas rata-rata regional sebesar 34 persen. Analisis lanjutan menunjukkan sebagian koloni karang berusia hingga 100–200 tahun.
Pejabat Sementara Direktur Program Kelautan dan Perikanan Yayasan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menambahkan bahwa hasil ekspedisi memperlihatkan ketangguhan ekosistem laut Maluku Barat Daya yang masih terjaga berkat peran masyarakat adat. Praktik kearifan lokal seperti Sasi dan larangan adat (pemali) terhadap perburuan spesies tertentu menjadi pilar utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem sejak generasi terdahulu.
“Kita menemukan habitat dugong terbesar, namun keajaiban ini sedang dihadapkan pada ancaman nyata, seperti praktik penangkapan ikan merusak oleh pihak luar, sampah plastik, dan ghost net. Kolaborasi pengawasan berbasis masyarakat melalui Pokmaswas menjadi kunci agar kekayaan ini tidak hilang,” ujarnya.
KKP menegaskan bahwa kerusakan ekosistem di Maluku Barat Daya akan berdampak luas terhadap ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional, mengingat wilayah ini berperan sebagai pemasok nutrisi laut dalam skala besar. Oleh karena itu, penguatan pengawasan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan menjadi langkah strategis yang harus segera dilakukan.
Sebagai upaya memperluas penyadartahuan masyarakat pesisir, WWF Indonesia akan menyusun program sosialisasi kawasan konservasi dan spesies kunci dengan pendekatan budaya lokal Kalwedo, yang bermakna persaudaraan, kebersamaan, dan saling menghormati. Pendekatan ini diharapkan mampu menanamkan rasa bangga dan kepemilikan terhadap kekayaan laut Maluku Barat Daya, khususnya bagi generasi muda, demi keberlanjutan laut Indonesia di masa depan. (sn)


dok. WWF-Indonesia
