Di perairan Maluku, hamparan lamun tumbuh di antara daratan dan laut. Ekosistem ini bukan sekadar tempat tumbuh tumbuhan laut. Padang lamun menyediakan habitat bagi berbagai biota, mendukung aktivitas perikanan, melindungi wilayah pesisir, dan menyimpan karbon di dalam biomassa serta sedimen.
Potensi tersebut menjadi perhatian Yayasan Samudera Indonesia Timur (YSIT) melalui Studi Kelayakan Potensi Karbon Biru pada Ekosistem Lamun di Provinsi Maluku. Studi ini mencakup Kabupaten Maluku Tenggara, Kota Tual, dan Kabupaten Kepulauan Aru.
Tim peneliti memadukan pemetaan melalui penginderaan jauh, survei ekologi, dan kajian sosial masyarakat pesisir. Pendekatan tersebut memungkinkan penelitian tidak hanya melihat kondisi lamun dari sisi ekologis, tetapi juga memahami hubungan masyarakat dengan ekosistem tersebut.
Memetakan Padang Lamun dari Udara
Pemetaan menunjukkan padang lamun menjadi salah satu habitat bentik yang dominan di sejumlah lokasi penelitian. Tim menemukan hamparan lamun di perairan Desa Dertawun, Ngilngof, Dullah, dan Taar di Maluku Tenggara dan Kota Tual.
Di Kepulauan Aru, tim juga menemukan sebaran lamun yang signifikan di Desa Wairalau. Beberapa lokasi memiliki hamparan hingga ratusan hektare.
Tim menggunakan algoritma Random Forest untuk memetakan habitat bentik. Metode tersebut menghasilkan overall accuracy antara 76 hingga 88 persen pada lokasi penelitian.
Data tersebut memberikan gambaran spasial mengenai sebaran habitat bentik. Peneliti dapat menggunakan hasil pemetaan itu sebagai salah satu dasar untuk menyusun pengelolaan dan pemantauan ekosistem pesisir.
Delapan Spesies Lamun
Pemetaan spasial kemudian dilengkapi dengan survei lapangan. Tim mengidentifikasi hingga delapan spesies lamun di wilayah penelitian.
Beberapa spesies yang dominan antara lain Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, dan Cymodocea rotundata. Keberadaan berbagai spesies tersebut menunjukkan keragaman ekosistem lamun di sejumlah lokasi kajian.
Lamun juga menyediakan habitat asuhan atau nursery ground bagi berbagai biota laut. Karena itu, perubahan kondisi padang lamun dapat berkaitan dengan keberlangsungan sumber daya pesisir yang dimanfaatkan masyarakat.
Tim menemukan tingkat tutupan lamun yang berbeda antar lokasi. Tutupan berkisar dari kategori jarang hingga padat. Perairan Dullah Darat dan sejumlah wilayah di Maluku Tenggara menunjukkan tutupan yang relatif tinggi.
Namun, tidak semua lokasi menunjukkan kondisi yang sama. Sejumlah kawasan memiliki tutupan sedang hingga jarang. Temuan tersebut menunjukkan adanya tekanan terhadap ekosistem yang perlu mendapat perhatian melalui pengelolaan dan pemantauan secara berkelanjutan.
Aktivitas manusia menjadi salah satu tekanan yang perlu diperhatikan. Lalu lintas kapal, aktivitas penangkapan ikan, dan berbagai aktivitas di wilayah pesisir dapat memengaruhi kondisi padang lamun.
Karbon yang Tersimpan di Dasar Laut
Di balik hamparan hijau yang tumbuh di perairan dangkal, lamun juga menyimpan fungsi penting dalam siklus karbon. Karbon tersimpan dalam biomassa tumbuhan dan sedimen yang berada di bawah padang lamun.
Studi YSIT menggunakan hasil analisis awal serta pembandingan dengan studi nasional untuk melihat potensi karbon biru di wilayah kajian. Hasil kajian menunjukkan adanya potensi penyimpanan karbon pada ekosistem lamun yang dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.
Namun, potensi tersebut tidak cukup hanya dengan menghitung luas padang lamun. Kondisi ekosistem, biomassa, karakteristik sedimen, serta faktor ekologis lainnya perlu menjadi bagian dari pengukuran karbon yang lebih rinci.
Karena itu, data dasar atau baseline menjadi penting. Data tersebut dapat membantu pemangku kepentingan memahami kondisi awal ekosistem sebelum menjalankan program konservasi, restorasi, atau pengembangan inisiatif karbon biru.
Ketika Lamun Berkaitan dengan Kehidupan Warga
Ekosistem lamun juga memiliki hubungan langsung dengan masyarakat pesisir. Kajian sosial dalam penelitian ini menunjukkan masyarakat di Maluku Tenggara, Kota Tual, dan Kepulauan Aru memanfaatkan wilayah pesisir untuk berbagai aktivitas penghidupan.
Sebagian besar responden memahami fungsi lamun bagi perikanan dan keberadaan ikan. Namun, pemahaman mengenai fungsi lamun sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim masih terbatas.
Temuan lain muncul dari kelompok nelayan dan pemuda. Kedua kelompok tersebut menunjukkan minat untuk terlibat dalam kegiatan konservasi, restorasi, dan pemantauan lamun.
Potensi keterlibatan tersebut membuka ruang bagi pengelolaan berbasis masyarakat. Pengetahuan lokal masyarakat dapat berjalan bersama dengan data ilmiah untuk menentukan bentuk pengelolaan yang sesuai dengan kondisi setiap wilayah.
Dari Data Menuju Pengelolaan
Studi ini memberikan tiga lapisan informasi sekaligus. Pemetaan menunjukkan di mana lamun berada. Survei ekologi menggambarkan bagaimana kondisi dan keanekaragaman lamun. Kajian sosial menunjukkan bagaimana masyarakat berhubungan dengan ekosistem tersebut.
Ketiga informasi itu dapat menjadi dasar untuk menyusun strategi pengelolaan pesisir yang lebih terarah. Pendekatan tersebut juga membantu melihat lamun bukan hanya sebagai ekosistem yang perlu dilindungi, tetapi sebagai bagian dari kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
Bagi YSIT, hasil studi ini menjadi dasar untuk mengembangkan agenda konservasi lamun dan karbon biru di Indonesia Timur. Organisasi tersebut juga mendorong pengelolaan yang menghubungkan data ilmiah, kebijakan, dan keterlibatan masyarakat.
Pada akhirnya, masa depan padang lamun tidak hanya bergantung pada seberapa luas ekosistem itu tersisa. Masa depannya juga bergantung pada kemampuan berbagai pihak memahami nilai ekologisnya, mengurangi tekanan terhadap habitat, dan melibatkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan ekosistem tersebut.
Di perairan Maluku, hamparan lamun menyimpan lebih dari sekadar warna hijau di dasar laut. Di dalamnya terdapat habitat bagi biota, sumber penghidupan masyarakat, dan karbon yang tersimpan dalam ekosistem pesisir. Data dari tiga wilayah penelitian memberi titik awal untuk memahami potensi tersebut sekaligus menentukan langkah pengelolaan berikutnya.


