Mendorong Pembangunan Berkelanjutan Indonesia Timur melalui Karbon Biru Lamun di Provinsi Maluku

Mendorong Pembangunan Berkelanjutan Indonesia Timur melalui Karbon Biru Lamun di Provinsi Maluku

Yayasan Samudera Indonesia Timur (YSIT) menegaskan komitmennya dalam memajukan kehidupan masyarakat dan menjaga keberlanjutan lingkungan di Indonesia bagian timur melalui pelaksanaan Studi Kelayakan Potensi Karbon Biru pada Ekosistem Lamun di Provinsi Maluku. Studi ini menjadi langkah strategis YSIT dalam memperkuat pengelolaan ekosistem pesisir berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan keterlibatan masyarakat lokal.

Provinsi Maluku dipilih sebagai lokasi kajian karena karakteristik wilayahnya yang sangat didominasi laut serta posisinya yang strategis di kawasan Segitiga Karang Dunia. Wilayah ini menyimpan potensi besar ekosistem pesisir termasuk padang lamun yang berperan penting dalam menopang perikanan, melindungi garis pantai, serta menyerap karbon untuk mitigasi perubahan iklim.

Tujuan dan Pendekatan Penelitian

Studi ini bertujuan untuk menilai kelayakan pengembangan karbon biru berbasis ekosistem lamun, sekaligus menyediakan data dasar (baseline) bagi pengelolaan dan konservasi pesisir yang berkelanjutan. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Maluku Tenggara, Kota Tual, dan Kabupaten Kepulauan Aru, dengan mengintegrasikan tiga pendekatan utama, yaitu:

  1. Penginderaan jauh untuk memetakan luasan dan distribusi lamun,
  2. Survei ekologi untuk menilai struktur komunitas, kesehatan, dan keanekaragaman lamun,
  3. Kajian sosial masyarakat pesisir untuk memahami persepsi, pengetahuan, serta peluang keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan ekosistem.

Pendekatan terintegrasi ini mencerminkan visi YSIT bahwa pembangunan lingkungan di Indonesia Timur harus berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat dan penguatan tata kelola lokal.

Hasil Pemetaan dan Distribusi Lamun

Hasil pemetaan menunjukkan bahwa padang lamun merupakan habitat bentik yang dominan di sebagian besar lokasi penelitian. Di Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual, padang lamun mendominasi perairan Desa Dertawun, Ngilngof, Dullah, dan Taar, dengan luasan ratusan hektare di beberapa lokasi. Di Kabupaten Kepulauan Aru, padang lamun juga ditemukan dalam luasan yang signifikan, khususnya di Desa Wairalau, yang menjadi salah satu kawasan dengan sebaran lamun terluas dalam studi ini.

Pemetaan habitat bentik menggunakan algoritma Random Forest menghasilkan tingkat akurasi yang tinggi, dengan nilai overall accuracy berkisar antara 76–88 persen di seluruh lokasi penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa data spasial yang dihasilkan cukup andal untuk digunakan sebagai dasar perencanaan pengelolaan pesisir dan pengembangan program konservasi.

Keanekaragaman dan Kondisi Ekologi Lamun

Survei lapangan mengidentifikasi hingga delapan spesies lamun di wilayah penelitian, dengan spesies dominan antara lain Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, dan Cymodocea rotundata. Kehadiran spesies-spesies ini menunjukkan bahwa ekosistem lamun di Maluku masih memiliki keanekaragaman yang relatif tinggi dan berfungsi penting sebagai habitat asuhan (nursery ground) bagi berbagai biota laut.

Tingkat tutupan lamun bervariasi antar lokasi, mulai dari kategori jarang hingga padat. Beberapa lokasi seperti perairan Dullah Darat dan sebagian wilayah Maluku Tenggara menunjukkan tutupan lamun yang relatif tinggi, menandakan kondisi ekosistem yang masih cukup sehat. Sementara itu, lokasi lain dengan tutupan sedang hingga jarang mengindikasikan adanya tekanan lingkungan dan perlunya upaya pengelolaan serta pemantauan berkelanjutan.

Secara umum, hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar padang lamun berada pada kondisi sedang hingga baik, meskipun terdapat indikasi degradasi di beberapa lokasi akibat aktivitas manusia, seperti lalu lintas kapal, penangkapan ikan, dan tekanan pesisir lainnya.

Potensi Karbon Biru Lamun

Berdasarkan analisis awal dan pembandingan dengan studi nasional, padang lamun di wilayah penelitian memiliki potensi penyimpanan karbon biru yang tinggi, sejalan dengan rata-rata nasional yang dapat mencapai ratusan megagram karbon per hektare. Karbon tersimpan tidak hanya pada biomassa lamun, tetapi juga pada sedimen di bawahnya yang berfungsi sebagai penyimpan karbon jangka panjang.

Temuan ini memperkuat posisi ekosistem lamun Maluku sebagai aset strategis dalam mendukung inisiatif mitigasi perubahan iklim, baik di tingkat daerah maupun nasional. Bagi YSIT, data ini menjadi dasar penting untuk mendorong integrasi karbon biru dalam kebijakan pengelolaan pesisir dan ekonomi biru di Indonesia Timur.

Perspektif dan Keterlibatan Masyarakat Pesisir

Hasil kajian sosial menunjukkan bahwa masyarakat pesisir di Maluku Tenggara, Kota Tual, dan Kepulauan Aru memiliki hubungan yang erat dengan ekosistem lamun, terutama sebagai sumber penghidupan dan habitat ikan. Sebagian besar responden memahami fungsi lamun sebagai penunjang perikanan, namun pemahaman mengenai peran lamun dalam mitigasi perubahan iklim masih terbatas.

Menariknya, kelompok nelayan dan pemuda menunjukkan minat yang kuat untuk terlibat dalam kegiatan konservasi, restorasi, dan pemantauan ekosistem lamun. Hal ini membuka peluang besar bagi pengembangan pengelolaan berbasis masyarakat yang sejalan dengan nilai-nilai lokal dan kearifan tradisional.

Kesimpulan Utama Penelitian

Secara keseluruhan, studi ini menyimpulkan bahwa:

  • Ekosistem lamun di wilayah kajian memiliki luasan yang signifikan, keanekaragaman spesies yang relatif tinggi, dan kondisi ekologi yang cukup baik.
  • Padang lamun Maluku menyimpan potensi karbon biru yang besar dan layak dikembangkan sebagai bagian dari strategi mitigasi perubahan iklim.
  • Data spasial dan ekologi yang dihasilkan memiliki tingkat keandalan tinggi dan dapat digunakan sebagai dasar perencanaan pengelolaan pesisir.
  • Masyarakat pesisir memiliki potensi besar untuk menjadi mitra utama dalam pengelolaan dan konservasi lamun secara berkelanjutan.

Peran Yayasan Samudera Indonesia Timur ke Depan

Melalui studi kelayakan ini, Yayasan Samudera Indonesia Timur menegaskan perannya sebagai penghubung antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik lapangan di Indonesia Timur. Penelitian ini menjadi fondasi awal untuk pengembangan program konservasi lamun, inisiatif karbon biru berbasis masyarakat, serta penguatan ekonomi pesisir yang berkelanjutan.

YSIT percaya bahwa perlindungan ekosistem lamun bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga tentang membangun masa depan masyarakat pesisir yang lebih berdaya, tangguh, dan sejahtera. Dengan pendekatan kolaboratif dan berbasis data, Yayasan Samudera Indonesia Timur terus berkomitmen menghadirkan perubahan nyata bagi Indonesia Timur dari laut, untuk kehidupan.

Tim Yayasan Samudera Indonesia Timur melakukan pengamatan langsung ekosistem lamun di perairan pesisir Maluku sebagai bagian dari studi potensi karbon biru dan upaya mendukung pengelolaan pesisir berkelanjutan/ dok YSIT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *