KKP–DFW Indonesia Tingkatkan Kompetensi Pekerja Pembekuan Tuna untuk Daya Saing Ekspor

SAMUDERANESIA.CO.ID — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPPSDM KP) bekerja sama dengan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pekerja Pembekuan Ikan Tuna yang berlangsung pada pertengahan Desember 2025 di Benoa, Bali, sebagai upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja pengolahan tuna guna memperkuat daya saing ekspor perikanan Indonesia.

Pelatihan yang difasilitasi Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Banyuwangi tersebut diikuti 31 peserta dari 15 perusahaan pengolahan tuna di kawasan Benoa. Kegiatan ini menjadi bagian dari strategi peningkatan standar kompetensi sumber daya manusia pada sektor pengolahan tuna, salah satu komoditas unggulan ekspor perikanan nasional.

Kepala BPPSDM KP, I Nyoman Radiarta, menjelaskan bahwa pelatihan ini merupakan implementasi kerja sama antara BPPSDM KP dan DFW Indonesia yang telah terjalin sejak 28 Agustus 2024. Kolaborasi tersebut difokuskan pada penguatan kapasitas dan sertifikasi pekerja pengolahan tuna sebagai bentuk dukungan terhadap industri perikanan yang berkelanjutan.

“Pelatihan ini menjadi wujud komitmen BPPSDM KP dalam meningkatkan kualitas SDM perikanan, khususnya di sektor pengolahan tuna, agar mampu memenuhi tuntutan pasar global,” ujar Radiarta dalam keterangan resmi di Jakarta.

Sejalan dengan tren positif nilai ekspor perikanan Indonesia dalam empat tahun terakhir, komoditas tuna, tongkol, dan cakalang terus menjadi kontributor utama. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi tenaga kerja dinilai krusial untuk menjaga mutu produk sekaligus memastikan kepatuhan terhadap standar internasional.

Kepala Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan (Puslat KP), Lilly Aprilya Pregiwati, menegaskan bahwa kualitas SDM menjadi faktor penentu dalam menjaga mutu produk perikanan. Dalam pelatihan ini, peserta dibekali materi terkait sanitasi dan higienitas produksi, penanganan bahan baku, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), proses pembekuan, serta teknik pengemasan tuna beku.

“Standar mutu internasional industri tuna semakin ketat. Pekerja harus memiliki keterampilan teknis, pemahaman sanitasi, dan keselamatan kerja agar produk Indonesia tetap kompetitif di pasar global,” jelas Lilly.

Direktur Program DFW Indonesia, Imam Trihatmadja, menyampaikan bahwa pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mencetak tenaga pengolah tuna yang kompeten, profesional, dan memiliki peluang peningkatan karier di industri perikanan.

Manfaat pelatihan juga dirasakan langsung oleh peserta. Sonta dari PT Perintis Jaya Internasional menilai kegiatan ini menambah wawasan pekerja terkait peningkatan kualitas produksi perikanan. Hal senada disampaikan Dani dari PT Bali Mina Utama, yang berharap pelatihan ini dapat meningkatkan keterampilan pekerja sehingga mampu menghasilkan produk tuna beku berkualitas tinggi.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa peningkatan kapasitas SDM merupakan bagian penting dari transformasi industri perikanan nasional. SDM yang kompeten menjadi kunci keberhasilan industri tuna, sekaligus memperkuat daya saing ekspor dan mendukung visi ekonomi biru Indonesia.

Peserta Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pekerja Pembekuan Tuna yang digelar KKP bekerja sama dengan DFW Indonesia di Benoa, Bali / Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *