SAMUDERANESIA.CO.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menunjukkan keseriusannya menjaga laut Indonesia tetap sehat dan bebas dari sampah. Melalui program Laut Sehat Bebas Sampah (Sebasah), KKP menggandeng Universitas Maritim Raja Ali Haji, Yayasan Jaga Mangkai, dan Yayasan Anambas dalam kegiatan sosialisasi serta aksi pengurangan sampah di Desa Keramut, Kepulauan Anambas.
Kegiatan yang berlangsung bertepatan dengan Bulan Bhakti Kelautan Perikanan untuk memperingati HUT ke-26 KKP sekaligus menyambut World Clean Up Day ini menegaskan pentingnya pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Masyarakat diajak untuk memahami bahaya sampah bagi ekosistem laut, cara memilah, mengurangi, hingga memanfaatkan limbah menjadi produk bernilai, seperti bioplastik berbahan kulit mangrove.
Persoalan sampah laut adalah tanggung jawab bersama. Melalui program Sebasah, kami ingin membangun kesadaran kolektif masyarakat, dengan fokus pada pengelolaan sampah dari sungai, pelabuhan, dan pesisir pulau kecil,” kata Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Ahmad Aris, di Jakarta, Rabu (1/10).
Selain edukasi, di Desa Keramut ini tidak hanya berupa penyuluhan, tetapi juga aksi nyata. Siswa, nelayan, hingga ibu-ibu PKK dilibatkan dalam bersih-bersih di Desa Keramut dan Pulau Mangkai. Dari aksi tersebut, tercatat sebanyak 407,1 kilogram sampah berhasil dicegah agar tidak mencemari laut.
Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji, Try Febrianto, menyebut inovasi bioplastik dari limbah mangrove dapat menjadi pintu perubahan pola pikir masyarakat. “Kami ingin masyarakat melihat laut bukan hanya sumber nafkah, tapi juga titipan yang harus dijaga. Inovasi seperti bioplastik dari limbah mangrove bisa menjadi awal perubahan,” ujarnya.
Kepala Desa Keramut, Markos, mengungkapkan bahwa masyarakat selama ini kesulitan menghadapi persoalan sampah. Ia mengapresiasi kehadiran KKP dan mitra yang dinilainya memberi solusi langsung. “Dengan adanya kegiatan ini, masyarakat merasa lebih berdaya, peduli, dan mampu memanfaatkan sampah menjadi bahan bernilai,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua Yayasan Anambas, Devina Mariskova. Ia menuturkan bahwa program pengelolaan sampah berbasis masyarakat di 32 desa telah menunjukkan dampak positif, mulai dari bank sampah keliling hingga pemanfaatan mesin press yang mampu menjadikan sampah sebagai sumber ekonomi keluarga. Ketua Yayasan Jaga Mangkai, Murwanto, menambahkan bahwa perubahan harus dimulai dari masyarakat. Dengan kesadaran kolektif, Anambas diharapkan dapat menjadi contoh kawasan konservasi yang bersih dan berkelanjutan.
Kepala LKKPN Pekanbaru, Rahmad Hidayat, menegaskan hasil kegiatan ini membuktikan bahwa keterlibatan masyarakat memiliki dampak besar. Menurutnya, laut yang bersih dan sehat hari ini adalah fondasi masa depan yang hebat bagi generasi mendatang.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, sebelumnya juga menekankan bahwa penanganan sampah laut menjadi salah satu prioritas KKP. Ia menilai keberhasilan menjaga laut tidak dapat bertumpu pada regulasi saja, melainkan pada kolaborasi nyata yang melibatkan akademisi, masyarakat, dan organisasi lokal sebagai garda terdepan.
Dengan semangat gotong royong dan aksi nyata, program Laut SEBASAH di Anambas menjadi inspirasi bagi kawasan konservasi lain di Indonesia. Upaya ini membuktikan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat, sekaligus membuka jalan bagi terwujudnya laut yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.



